Lampung Selatan – Aliran Sungai Way Pisang di Kabupaten Lampung Selatan tersumbat puluhan ribu kubik sampah kayu. Kondisi ini mengakibatkan aliran air tidak lancar dan mengancam ratusan hektare lahan pertanian di Kecamatan Penengahan dan Palas terendam banjir.
Tumpukan sampah kayu tersebut telah terjadi selama berbulan-bulan, khususnya di sepanjang aliran Sungai Way Pisang yang melintasi Desa Sukaraja, Kecamatan Penengahan. Sekilas, di area pintu air hanya terlihat tumpukan kecil, namun setelah ditelusuri lebih jauh, kondisi sungai ternyata sangat memprihatinkan.
Dalam bentangan sungai sepanjang sekitar tiga kilometer, ditemukan sedikitnya empat titik penumpukan sampah kayu. Lokasi terparah berada di Dusun Muara Badas, dengan tumpukan kayu yang menjulang tinggi hingga menyerupai bangunan besar. Hingga kini, belum diketahui secara pasti asal-usul potongan kayu tersebut.
Warga dan petani setempat hanya mampu menyingkirkan kayu-kayu yang menyumbat aliran sungai secara manual agar air tetap mengalir. Namun upaya tersebut dinilai sia-sia, mengingat volume sampah kayu yang mencapai puluhan ribu kubik.

Ancaman banjir dan erosi tanggul kini menghantui para petani. Mereka mendesak Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung segera menurunkan alat berat untuk membersihkan sungai sebelum kondisi semakin parah.
Tokoh masyarakat setempat, Ahmad, menyebut tumpukan sampah kayu ini telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan pertanian warga. Dalam satu bulan terakhir, sawah petani tercatat sudah tiga kali terendam banjir dengan ketinggian air mencapai satu meter, sehingga petani terpaksa melakukan tanam ulang hingga tiga kali.
Hal senada disampaikan Yaya, seorang petani di wilayah tersebut. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, tidak hanya membersihkan sampah kayu, tetapi juga melakukan normalisasi sungai serta pelebaran tanggul penahan banjir.
Warga menilai langkah tersebut mendesak dilakukan demi melindungi lahan pertanian dan mempertahankan Lampung Selatan sebagai salah satu daerah penyangga ketahanan pangan nasional.

























